Jumat, 03 Maret 2017

Inverter 3 phase dengan konduksi 120°


Inverter 3 Phase Dengan Mode Konduksi 12°

Sebuah rangkaian dasar inverter 3 fasa tunggal sederhana terdiri dari 6 buah sistem sakelar S1, S2, S3, S4, S5, dan S6 dengan menggunakan mosfet daya (power mosfet) sebagai sakelar diperlihatkan pada gambar dibawah. Inverter 3 fasa dengan mode konduksi 120° memungkinkan setiap komponen pensakelaran akan konduksi selama 120° dengan pasangan konduksi yang berbeda, misalnya 60° pertama antara Q1 Q6, dan 60° ke dua antara Q1 Q2, dan seterusnya. Berikut adalh contoh rangkaian daya pada inverter 3 phase yang dapat dioperasikan dengan mode konduksi 120°. 



Khusus untuk mode operasi 120°, pola pengaturan kerja pensakelaran setiap komponen switching mengikuti bentuk seperti tabel berikut. 


Tabel Konfigurasi Pensakelaran Pada Inverter 3 Fasa Mode Konduksi 120° 

Bila dipilih 2 komponen pensakelaran konduksi pada saat yang bersamaan, maka tegangan dan arus untuk interval 60°, dan bentuk gelombang tegangan diperoleh seperti diperlihatkan pada gambar berikut. Pasangan komponen pensakelaran yang lain pada waktu selanjutnya akan identik, dengan lama waktu konduksi sebesar 120°. 
Arah Aliran Arus Aada Beban Mengikuti Pola Pensakelaran Inverter 3 Fasa Persegi Mode Konduksi 120° 



Bentuk Gelombang Arus Fasa Dan Tegangan Line Pada Inverter 3 Fasa Persegi Mode Konduksi 120° 


Kamis, 02 Maret 2017

Inverter 1 Phasa



INVERTER HALF-BRIDGE (FASE TUNGGSAL)


Gambar dibawah menunjukkan inverter setengah jembatan. Disini, dua kapasitor yang sama disambung seri memotong dc masuk dan simpangannya terletak pada potensial tengah, dengan tegangan 1/2Vd melalui tiap kapasitor. Kapasitas yang cukup besar harus digunakan karena layak untuk mengasumsi bahwa potensial pada titik o tetap dc negative berarti N. Oleh karena itu sirkuit ini identik pada inverter one-leg dasar yng didiskusikan pada detail sebelumnya, dan vo = vAo .

Pada inverter half-bridge, puncak tegangan dan arus dihitung pada perubahan seperti berikut :


VT = Vd
dan
IT = io



INVERTER FULL-BRIDGE (FASE TUNGGAL)

Inverter full-bridge ditunjukkan pada gambar. Inverter ini terbagi dua inverter one-leg dari tipe yang telah didiskusikan dan diutamakan lebih dari pengaturan lain pada tingkat tenaga yang lebih tinggi. Dengan tegangan dc masukan yang sama, tegangan keluaran maksimum inverter full-bridge adalah dua kali dari inverter half-bridge. Ini menyiratkan bahwa untuk tenaga yang sama, arus keluaran dan perubahan arus adalah satu-setengah dari keduanya untuk inverter half-bridge.






OUTPUT CONTROL DENGAN PEMBATALAN TEGANGAN


Tipe control ini mungkin hanya pada satu fasa, rangkaian inverter jembatan penuh. Ini didasarkan pada kombinasi dari pensaklaran gelombang persegi dan PWM dengan unipolar voltage-switching. Pada rangkaian di gambar : a, saklar-saklar pada kedua kaki inverter dikontrol secara terpisah.Tapi semua saklar mempunyai duty ratio 0.5, sama dengan square-wave control. Hasil dalam bentuk gelombangnya untuk VAN dan VBN terlihat pada gambar b.





PEMAKAIAN SAKLAR PADA INVERTER JEMBATAN PENUH


Sama dengan inverter ½ jembatan penuh, jika trafo dipakai pada output dari inverter jembatan penuh, induktansi bocor trafo tidak akan membuat saklar bermasalah.


Tegangan puncak switching dan rating arus yang ada pada inverter jembatan penuh adalah sebagai berikut :






dan





RIPEL PADA OUTPUT INVERTER SATU FASA



Riple pada gelombang yang berulang mengacu pada perbedaan nilai sesaat dari gelombang dan komponen frekuensi dasar.
semua riple di v0 terlihat bersebrangan dengan L dimana :





Untuk riple arus output dapat dihitung dengan :




dimana k adalah konstanta dan adalah variabel dari integral.
Dengan menset waktu asli t=0, konstanta k pada persamaan tsb akan nol. Oleh karena itu, persamaan diatas memperlihatkan bahwa arus riple tidak bergantung pada daya yang ditransfer ke beban.



Gambar inverter satu-fasa: (a) circuit; (b) komponen frekuensi-dasar; (c) komponen ripple frekuensi; (d) diagram fasor –frekuensi-dasar.

Push-Pull Inverter

Rangkaiannya terdiri dari trafo dengan primer center-tapped. Kita asumsikan arus output i0 mengalir secara kontinu. Dengan asumsi itu, ketika saklar T1 on (dan T2 off), T1 akan konduk pada nilai positif dari io, dan D1 akan konduk pada nilai negatif dari i0.











Keuntungan dari rangkaian push-pull adalah tidak lebih dari satu saklar yang seri konduk pada waktu yang sesaat. Ini penting jika dc input ke konverter berasal dari sumber tegangan yang rendah, seperti baterai, dimana drop tegangan akan menghasilkan pengurangan yang signifikan dalam efesiensi energi. Bagaimanapun, sangat sulit untuk menghindari saturasi dc dari trafo pada push-pull inverter.




Pemakaian Saklar pada Inverter Satu Fasa

Asumsikan bahwa Vd,max adalah nilai tertinggi dari tegangan input, jika arus output diasumsikan sinusoidal murni, inverter rms volt-ampere output pada frekuensi dasar sama dengan Vo1 Io,max pada rating maksimum output. Dengan VT dan ITsebagai rating arus dan tegangan puncak dari saklar, kombinasi pemakaian dari semua saklar pada inverter dapat dijelaskan :





Dimana q adalah jumlah saklar pada inverter.
Untuk membandingkan pemakaian saklar pada bermacam inverter satu fasa, kita pada awalnya akan membandingkannya untuk operasi mode gelombang persegi pada rating maksimum output. (pemakaian saklar maksimum terjadi saat Vd = Vd,max)




Dalam prakteknya, rasio pemakaian saklar akan lebih rendah dari 0.6. Hal ini dikarenakan :

1. Rating saklar dipilih secara bebas menghasilkan batas yang aman.
2. Dalam menentukan rating arus saklar pada PWM inverter, salah satunya harus didasarkan pada tegangan dc input yang sesuai.
3. Riple arus output akan mempengaruhi rating arus saklar.




Oleh karena itu, teoti rasio pemakaian saklar maksimum pada PWM switching adalah hanya 0.125 saat ma = 1, sebagaimana dibandingkan dengan 0.16 pada inverter gelombang persegi.